Oleh: admin | 21 Juli 2009

Melihat Surga dikala senja di Tanah Lot

Setiba di Tanah Lot, kami pergunakan untuk menyelesaikan dan mengoreksi jawaban-jawaban misi TRESURE HUNT di 4 pos yang kami lewati. Dan tentu saja kami tidak mau terus berkutat pada misi ini, karena keindahan Tanah Lot terlalu kuat bagi kami untuk tidak mengekplorasinya.

Garis batas horizon yang membentang tegas antara batas langit dan bumi memancar eksotik oleh keindahan mahakarya sunset yang kami saksikan dari atas ketinggian batu karang restoran Melasti di Tanah Lot. Moment terbaik yang pernah ada di dunia ini menyempurnakan makan malam kami dengan hidangan menu full seafood barbeque: sate cumi, udang, lobster, kerang , kakap bakar, dan es kelapa muda.

Menurut Bli Bagus sang pemandu kami, Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi Pulau Bali. Dan Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Konon berdasarkan legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, Sanghyang Nirantha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Sanghyang Nirantha.

Bendesa Beraben menyuruh Sanghyang Nirantha untuk meninggalkan Tanah Lot. Nirantha menyanggupinya dan sebelum meninggalkan Tanah Lot ia dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana.

Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben akhirnya menjadi pengikut Sanghyang Nirantha.

Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan, melengkung. Apabila turun ke pantai antara Pura Tanah Lot dengan tebing, maka pada bulan tertentu akan dapat disaksikan sunset terdahsyat. Bola matahari yang berwarna merah akan tepat berada di lobang tebing. Seperti mata yang lelah memandang dunia. Sayangnya pemandangan ini cuman ada pada bulan-bulan tertentu yaitu saat matahari tenggelam condong ke utara.

Puas menyaksikan keindahan Tanah lot kami kembali ke Hotel di Nusa Dua untuk menyerahkan laptop kami masing-masing yang sudah berisi lengkap misi TREASURE HUNT (Rileks.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: