Oleh: admin | 7 Agustus 2009

Menapaki Mesjid Bersejarah Sunda Kelapa

Menyibak sejarah bangunan-bangunan kuno di Jakarta memang sangat menyenangkan. Salah satunya, Masjid Agung Sunda Kelapa di Jl Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan ini merupakan masjid pertama yang menerapkan perpaduan antara ibadah, perekonomian, dan pendidikan. Konsep ini terinspirasi oleh fungsi masjid yang dikembangkan pada zaman Nabi beberapa abad silam. Dimana masjid menjadi pusat aktivitas ibadah dan sosial.

Perpaduan konsep ini terlihat dari sejumlah ruangan dan bangunan pendukung di areal seluas 9.920 meter persegi itu. Di antaranya, ruang ibadah utama, ruangan aula yang juga sebagai ruang dakwah, perpustakaan, kantor bagi para pengurus masjid, dan satu Rumah Sehat yang diperuntukan warga kurang mampu. Ruangan merepresentasikan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan Rasulullah pada waktu itu.

Disamping itu, disain interior bangunan masjid ini juga kaya hiasan kaligrafi dari Timur Tengah. Salah satunya, berbentuk perahu sebagai makna simbolik kepasrahan seorang muslim saat duduk bersila dengan tangan menengadah. Sedangkan dari sisi luar, sejumlah bangunan masjid yang dibangun tahun 1971 ini terlihat unik. Misalkan, bangunan kubah dengan dihiasi batu marmer berwarna hijau berbentuk elips dan di seluruh dindingnya dihiasi kaligrafi berlafadzkan Allah.

Keindahan juga terpancar pada bagian bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Bangunan utama ini disanggah dengan 12 kayu dan dikelilingi hiasan kaligrafi. Secara umum gaya arsitektur yang diterapkan pada masjid ini mengikuti gaya yang berkembang pada masa itu. Berciri modern, praktis dan sederhana dalam memilih bentuk pintu, jendela, maupun asesoris. Ini bisa dilihat dari bentuk bangunan yang lebih mengandalkan struktur beton pada pilar, list-plang, dan atap.

Karenannya, tak heran jika bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 9.920 meter persegi ini menjadi bangunan cagar budaya golongan A. Untuk itu, secara hukum keberadaan bangunan ini dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya serta Perda Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Cagar Budaya.

Bangunan cagar budaya yang masuk golongan A merupakan bangunan yang keseluruhan bagiannya tidak boleh diubah dari bentuk aslinya. Dengan alasannya apapun, pemugaran tidak dibenarkan. Bila ada yang melanggar tentu akan ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.

Masjid Sunda Kelapa mampu menampung 5.000 jemaah. Selain sebagai tempat ibadah, pengurus masjid juga sering mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang berhubungan dengan pembelajaran Islam.

Selain beberapa kegiatan rutin tersebut, di mesjid ini sering mengadakan kegiatan yang sifatnya internasional seperti kunjungan ke negara-negara Islam seperti Malaysia dan Brunai Darusalam. Namun tak jarang, Mesjid Sunda Kelapa juga mendapat kunjungan dari negara-negara Timur Tengah, Arab, Afrika yang melakukan studi banding.

Yang paling membanggakan dari masjid ini, yakni masjid ini telah berhasil meng-Islamkan ribuan orang terhitung sejak tahun 1971. Dan sekitar 20 persen diantaranya warga asing. Menurut keterangan petugas mesjid, rata-rata hampir dua orang perhari yang menjadi mualaf.

Jadi, bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan spiritual didalam kota Jakarta silahkan ayunkan langkahmu ke Mesjid Sunda Kelapa yang penuh dengan simbol-simbol sejarah dunia Islam. (bj/yon/foto:rasfmjakarta/Rileks)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: